Selasa, 10 Mei 2011

ILMU PEMBAGIAN HARTA WARIS ( ILMU FAROIDH)

ILMU PEMBAGIAN HARTA WARIS ( ILMU FAROIDH)

1. DEFINISI 
Faroidh  adalah  jamak  dari  faridhoh.  Faridhoh  diambil  dari  kata  fardh  yang
artinya taqdir (ketentuan).   
Fardh secara syar'ie adalah bagian yang telah ditentukan bagi ahli waris. Ilmu
mengenai hal itu dinamakan ilmu waris ('ilmu miirats) dan ilmu Faroidh. 
Dari Penyusun:   
Kondisi di Indonesia masih banyak kaum muslimin yang menyepelekan hukum 
waris. Sebelum meninggal, membuat wasiat yang berisi pembagian waris yang
mendurhakai hukum Allah, seperti: tanah barat untuk si A, Rumah di jalan anu
untuk si B, padahal si A dan si B adalah ahli waris yang seharusnya dibagi
menurut hukum waris yang telah ditentukan Allah SWT.   
Padahal  secara  tegas  dalam  surat  An-Nisaa'  ayat  14  yang  merupakan
rangkaian dari ayat-ayat waris mengancam orang yang menyepelekan hukum
Allah dengan api neraka selama-lamanya:    
"Dan  barangsiapa  mendurhakai  Allah  dan  rasul-Nya  dan  melanggar
ketentuan- ketentuannya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka
sedang ia kekal didalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan."  
2. LEGALITAS ILMU FAROIDH
   Orang-orang Arab sebelum Islam hanya memberikan warisan kepada kaum
lelaki saja sedang kaum perempuan tidak mendapatkannya, dan warisan hanya
untuk  mereka  yang  sudah  dewasa,  anak-anak  tidak  mendapatkannya  pula.
Disamping itu ada juga waris-mewaris yang didasarkan pada perjanjian. Maka
Allah membatal- kan itu semua dan menurunkan firman-Nya:
    "Allah  mensyari'atkan  bagimu  tentang  pembagian  pusaka  untuk  anak-
anakkmu.

  Yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perem-    
puan;  dan  jika  anak  itu  semuanya  perempuan  lebih  dari  satu,  maka  bagi
mereka duapertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang    
saja maka dia memperoleh separuh harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak
bagi  masing-masingnya  seperenam  dari  harta  yang  ditinggalkan,  jika  yang     
meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai    
anak  dan  ia  diwarisi  oleh  ibu-bapaknya  (saja),  maka  ibunya  mendapat     
sepertiga; jika orang yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka    
ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah    
dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.    
(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa yang    
lebih  dekat  (banyak)  manfa'atnya  bagimu.  Ini  adalah  ketetapan  dari  Allah.   
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (S. An-Nisa : 11)
(Asbabun-Nuzul ayat di atas tidak kami sertakan).  
3. KEUTAMAAN ILMU FAROIDH
Dari Ibnu Mas'ud, dia berkata: Telah bersabda Rosululloh saw: "Pelajarilah  Al-
Qur'an  dan  ajarkanlah  kepada  manusia.  Pelajarilah  Faroidh  dan  ajarkanlah
kepada manusia. Karena aku adalah orang yang akan mati, sedang ilmupun
akan   diangkat. Hampir saja dua orang berselisih tentang pembagian warisan
dan masalahnya tidak menemukan sseorang yang memberitahukannya kepada
keduanya"
(HR Ahmad).
Dari 'Abdulloh bin 'Amr, bahwa Rosululloh saw bersabda: "Ilmu itu ada
tiga macam, dan selain dari yang tiga itu adalah tambahan. (Yang tiga itu ialah) 
ayat yang jelas, sunnah yang datang dari nabi, dan faroidhlah yang adil".
(HR Abu Dawud dan Ibnu Majah). 
Dari  Abu  Hurairoh,  bahwa  Nabi  saw  bersabda:  "Pelajarilah  Faroidh  dan
ajarkanlah kepada manusia, karena Faroidh adalah separuh dari ilmu dan akan

dilupakan. Faroidhlah ilmu yang pertama kali dicabut dari umatku". (HR Ibnu
Majah dan Ad-Daroquthni). 
4. PENINGGALAN (TIRKAH)   
Peninggalan (tirkah) adalah harta yang ditinggalkan oleh mayit (orang yang 
mati) secara mutlak. Yang demikian itu ditetapkan oleh Ibnu Hazm, katanya:   
Sesungguhnya Allah telah mewajibkan warisan kepada harta, bukan yang lain,
yang ditinggalkan oleh manusia sesudah dia mati. Adapun hak-hak, maka ia
tidak  diwariskan  kecuali  yang  mengikuti  harta  atau  dalam  pengertian  harta,
misalnya hak pakai, hak penghormatan, hak tinggal di tanah yang dimonopoli
untuk   bangunan dan tanaman. Menurut mazhab Maliki, Syafi'i dan Hambali,
peninggalan si mayit, baik hak harta benda maupun hak bukan harta benda. 
5. HAK-HAK YANG BERHUBUNGAN DENGAN HARTA PENINGGALAN
   Hak-hak  yang  berhubungan  dengan  harta  peninggalan  itu  ada  empat.
Keempatnya tidak sama kedudukannya, sebagiannya ada yang lebih kuat dari
yang  lain  sehingga  ia  didahulukan  atas  yang  lain  untuk  dikeluarkan  dari
peninggalan.
Hak-hak tersebut menurut tertib berikut :
-  Biaya  mengkafani  dan  memperlengkapinya  menurut  cara  yang  telah  diatur
dalam masalah jenazah
- Melunasi hutangnya. Ibnu Hazm dan Asy-Syafi'i mendahulukan hutang kepada   
Allah seperti zakat dan kifarat, atas hutang kepada manusia.    Orang-orang
Hanafi menggugurkan hutang kepada Allah dengan adanya kematian.   Dengan
demikian maka hutang kepada Allah itu tidak wajib dibayar oleh ahli    waris
kecuali apabila mereka secara sukarela membayarnya, atau diwasiatkan oleh
mayit  untuk  dibayarnya.  Dengan  diwasiatkannya  hutang,  maka  hutang  itu  
menjadi seperti wasiat kepada orang lain yang dikeluarkan oleh ahli waris   atau
pemelihara dari sepertiga yang tersisa setelah perawatan mayat dan   hutang
kepada manusia. Ini bila dia mempunyai ahli waris. Apabila dia tidak  mempunyai
ahli waris, maka wasiat hutang itu dikeluarkan dari seluruh harta.
Orang-orang Hambali mempersamakan antara hutang kepada Allah dengan
hutang kepada manusia. Demikian pula mereka sepakat bahwa hutang hamba
yang bersifat   'aini (hutang yang berhubungan dengan harta peninggalan) itu
didahulukan atas  hutang muthlak.
-  Pelaksanaan  wasiat  dari  sepertiga  sisa  harta  semuanya  sesudah  hutang
dibayar.
- Pembagian sisa harta di antara para ahli waris.  
6. RUKUN WARIS 
   Ada tiga hal :
a.  Pewaris  (al-waarits)  ialah  orang  yang  mempunyai  hubungan  penyebab
kewarisan  dengan mayit sehingga dia memperoleh kewarisan.
b.  Orang  yang  mewariskan  (al-muwarrits):  ialah  mayit  itu  sendiri,  baik  nyata   
maupun  dinyatakan  mati  secara  hukum,  seperti  orang  yang  hilang  dan   
dinyatakan mati.
c. Harta yang diwariskan (al-mauruuts): disebut pula peninggalan dan warisan.
   Yaitu harta atau hak yang dipindahkan dari yang mewariskan kepada pewaris.  
7. SEBAB-SEBAB MEMPEROLEH WARISAN 
   Ada tiga sebab :
a. Nasab Hakiki (kerabat yang sebenarnya), firman Allah SWT:
   "Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagian lebih berhak
terhadap sesamanya daripada yang bukan kerabat di dalam Kitab Allah (S.8 :
75)
b. Nasab Hukumi (wala = kerabat karena memerdekakan), sabada Rosululloh
saw:
   "Wala itu adalah kerabat seperti kekerabatan karena nasab" (HR Ibnu Hibban
   dan Al-Hakim dan dia menshahihkan pula).
c. Perkawinan yang Shahih, firman Allah SWT:
   Dan bagimu seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu.
   (An-Nisaa' ayat 12)  
8. SYARAT-SYARAT PEWARISAN
   Ada tiga syarat :
a.  Kematian  orang  yang  mewariskan,  baik  kematian  secara  nyata  ataupun
kematian  secara  hukum,  misalnya  seorang  hakim  memutuskan  kematian
seseorang  yang  hilang.  Keputusan  tersebut  menjadikan  orang  yang  hilang
sebagai  orang  yang  mati  secara  hahiki,  atau  mati  menurut  dugaan  seperti
seseoran  memukul  seorang  perempuan  yang  hamil  sehingga  janinnya  gugur
dalam  keadaan  mati;  maka  janin  yang  gugur  itu  dianggap  hidup  sekalipun
hidupnya itu belum nyata.
b. Pewaris itu hidup setelah orang yang mewariskan mati, meskipun hidupnya itu
   secara  hukum,  misalnya  kandungan.  Kandungan  secara  hukum  dianggap
hidup,  karena mungkin ruhnya belum ditiupkan. Apabila tidak diketahui bahwa
pewaris  itu  hidup  sesudah  orang  yang  mewariskan  mati,  seperti  karena
tenggelam atau terbakar atau tertimbun; maka di antara mereka itu tidak ada
waris mewarisi jika mereka itu termasuk orang-orang yang saling mewaris. Dan
harta masing- masing mereka itu dibagikan kepada ahli waris yang masih hidup.
c. Bila tidak ada penghalang yang menghalangi pewarisan.  
9. PENGHALANG-PENGHALANG PEWARISAN   
Yang  terhalang  untuk  mendapatkan  warisan  adalah  orang  yang  memenuhi
sebab-sebab untuk memperoleh warisan, akan tetapi dia kehilangan hak untuk
memperoleh warisan. Orang yang demikian dinamakan MAHRUM. Penghalang
itu ada empat: 
a. Perbudakan: Baik orang itu menjadi budak dengan sempurna atau tidak. 
b. Pembunuhan dengan sengaja yang diharamkan.   
Apabila  pewaris  membunuh  orang  yang  mewariskan  dengan  cara  zhalim,
maka dia   tidak lagi mewarisi, karena hadits Nabi saw bersabda :
   "Orang yang membunuh itu tidak mendapatkan warisan sedikitpun".   
Adapun  pembunuhan  yang  tidak  disengaja,  maka  para  ulama  berbeda
pendapat di    dalamnya. Berkata Asy-Syafi'i: Setiap pembunuhan menghalangi
pewarisan,   sekalipun pembunuhan itu dilakukan oleh anak kecil atau orang gila,
dan   sekalipun dengan cara yang benar seperti had atau qishash. Mazhab Maliki
   berkata: Sesungguhnya pembunuhan yang menghalangi pewarisan itu adalah   
pembunuhan yang sengaja bermusuhan, baik langsung ataupun mengalami   
perantaraan.  Undang-undang  Warisan  Mesir  mengambil  pendapat  ini  dalam
pasal   lima belas, yang bunyinya :   
"Di  antara  penyebab  yang  menghalangi  pewarisan  ialah  membunuh  orang
yang     mewariskan dengan sengaja, baik pembunuh itu pelaku utama, serikat,
ataupun  saksi  palsu  yang  kesaksiannya  mengakibatkan  hukum  bunuh  dan
pelaksanaannya bagi orang yang mewariskan, jika pembunuhan itu pembunuhan
yang tidak benar  atau tidak beralasan; sedang pembunuh itu orang yang berakal
dan sudah berumur lima belas tahun; kecuali kalau dia melakukan hak membela
diri yang sah. 
c. Berlainan Agama
   Dengan demikian seorang muslim tidak mewarisi dari orang kafir, dan seorang    
kafir  tidak  mewarisi  dari  seorang  muslim;  karena  hadits  yang  diriwayatkan  
oleh empat orang ahli hadits, dari Usamah bin Zaid, bahwa Nabi saw bersabda:  
"Seorang  muslim  tidak  mewarisi  dari  seorang  kafir,  seorang  kafirpun  tidak   
mewarisi  dari  seorang  muslim".Diriwayatkan  oleh  Mu'adz,  Mu'awiyah,  Ibnul   
Musayyab, Masruq dan An-Nakha'i, bahwa sesungguhnya seorang muslim itu   
mewarisi  dari  seorang  kafir;  dan  tidak  sebalinya.  Yang  demikian  itu  seperti  
halnya seorang muslim laki-laki boleh menikah dengan seorang kafir perempuan
   dan seorang kafir laki-laki tidak boleh menikah dengan seorang muslim perem-   
puan.Adapun  orang-orang  yang  bukan  muslim,  maka  sebagian  mereka
mewarisi sebagian   yang lain, karena mereka dianggap satu agama. 
d. Berbeda Negara (Tidak menghalangi)   
Yang dimaksud berbeda negara adalah berbeda kebangsaannya. Perbedaan
kebangsaan ini tidak menghalangi pewarisan di antara kalangan kaum muslimin,
karenaseorang  muslim  itu  mewarisi  dari  seorang  muslim,  sekalipun  jauh
negaranya dan  berbeda wilayahnya.  
10. ORANG-ORANG YANG BERHAK MENERIMA WARISAN 
    Orang-orang  yang  berhak  menerima  warisan,  menurut  mazhab  Hanafi,
tersusun sebagai berikut :
1 Ashhaabul Furuudh
2 'Ashabah Nasabiyah
3 'Ashabah Sababiyah
4 Rodd kepada Ashhaabul Furuudh
5 Dzawul Arhaam
6 Maulal Muwaalah
7 Orang yang diakukan nasabnya kepada orang lain
8 Orang yang menerima wasiat melebihi sepertiga harta peninggalan
9 Baitul Maal     
Adapun  urutan  orang-orang  yang  berhak  menerima  warisan  menurut  kitab
Undang- undang warisan yang berlaku di Mesir adalah sebagai berikut:
1 Ashhaabul Furuudh
2 'Ashabah Nasabiyah
3 Rodd kepada Ashhaabul Furuudh
4 Dzawul Arhaam
5 Rodd kepada salah seorang suami-isteri
6 'Ashabah Sababiyah
7 Orang yang diakukan nasabnya kepada orang lain
8 Orang yang menerima wasiat semua harta peninggalan
9 Baitul Maal  
11. ASHHAABUL FURUUDH     
Ashhaabul  Furuudh  adalah  mereka  yang  mempunyai  bagian  dari  keenam
bagian yang ditentukan bagi mereka, yaitu: 1/2, 1/4, 1/8, 2/3, 1/3 dan 1/6.    
Ashhaabul Furuudh ada dua belas orang: empat laki-laki, yaitu ayah, kakek
yang  sah  dan  seterusnya  ke  atas,  saudara  laki-laki  seinu,  dan  suami.  Dan 
delapan  perempuan,  yaitu  isteri,  anak  perempuan,  saudara  perempuan
sekandung,saudara  perempuan  seayah,  saudara  perempuan  seibu,  anak
perempuan dari anak laki-laki, ibu, dan nenek serta seterusnya sampai ke atas.
Berikut ini akan dijelaskan bagian dari masing-masing secara terperinci: 
11.1. AYAH 
    Berfirman Allah SWT:
"Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta
yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang
meninggal tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh ibu-bapaknya saja, maka
ibunya mendapat sepertiga".
    
    Ayah itu mempunyai tiga ketentuan: mewarisi dengan jalan fardh, mewarisi 
dengan jalan 'ashabah, dan mewarisi dengan jalan fardh dan 'ashabah secara
ber barengan.
- Dengan jalan Fardh: 
Ayah mewarisi dengan jalan fardh apabila dia bersama dengan keturunan
(far'un)  lelaki  satu  atau  dengan  yang  lainnya  (perempuan).  Dalam  keadaan
demikian, maka bagian ayah adalah seperenam. 
- Dengan jalan 'ashabah:
    Ayah mewarisi dengan jalan 'ashobah, jika mayit tidak mempunyai keturunan 
(far'un)  yang  mewarisi,  baik  laki-laki  ataupun  perempuan.  Dengan  demikian,
maka  ayah  mengambil  semua  peninggalan  bila  ia  sendirian,  atau  sisa  dari
Ashhaabul Furuudh bila dia bersama dengan salah seorang di antara mereka. 
- Dengan jalan fardh dan 'ashobah    
Yang demikian terjadi bila dia bersama dengan keturunan perempuan yang
mewarisi. Dalam keadaan yang demikian, ayah mengambil seperenam sebagai
fardh, kemudian mengambil sisa dari Ashhaabul Furuudh sebagai 'ashobah. 
11.2. KAKEK YANG SHAHIH     
Kakek ada yang shahih dan ada yang fasid. Kakek yang shahih ialah kakek
yang nasabnya dengan mayit tidak diselingi oleh perempuan, misalnya ayah dari
ayah.    
Kakek yang fasid ialah kakek yang nasabnya dengan si mayit diselingi oleh
perempuan,  misalnya  ayah  dari  ibu.  Kakek  yang  shahih  mendapatkan  waris
menurut ijma'. 
"Dari  'Imran  bin  Hushain,  bahwa  seorang  laki-laki  telah  datang  kepada
Rosululloh saw, lalu katanya: Sesungguhnya anak laki-laki dari anak laki-lakiku
telah mati, berapakah aku mendapatkan warisannya? Beliau menjawab: "Engkau
mendapatkan seperenam." Ketika orang itu hendak pergi, Beliau memanggilnya
dan berkata: 
"Engkau mendapatkan seperenam." Dan ketika orang itu hendak pergi, maka
Beliau  memanggilnya  dan  berkata:  "Engkau  mendapat  seperenam  lainnya."

Ketika  orang  itu  hendak  pergi,  Beliau  memanggilnya  dan  berkata:
"Sesungguhnya seperenam yang lain itu adalah tambahan." (HR Ahmad, Abu
Dawud, dan At-Tirmidzi dan dia menshahihkan
pula).     
Hak waris kakek yang shahih itu gugur dengan adanya ayah; dan bila ayah
tidak  ada,  maka  kakek  shahih  yang  menggantikannya,  kecuali  dalam  empat
masalah:
1 Ibu dari ayah itu tidak mewarisi bila ada ayah, sebab ibu dari ayah itu gugur
  dengan adanya ayah dan mewarisi bersama kakek.
2 Apabila si mayit meninggalkan ibu-bapak dan seorang dari suami-isteri, maka 
  ibu mendapatkan sepertiga dari sisa harta sesudah bagian salah seorang dari
  suami-isteri. Adapun bila kakek menggantikan ayah, maka ibu mendapatkan 
  sepertiga dari semua harta. Masalah ini dinamakan masalah 'Umariyah, karena
  masalah ini diputuskan oleh 'Umar. Masalah ini juga dinamakan gharraaiyyah
  karena terkenalnya bagai bintang pagi. Akan tetapi Ibnu 'Abbas menentang hal 
  itu, dan katanya: "Sesungguhnya ibu mendapatkan sepertiga dari keseluruhan
  harta ; karena firman Allah : 'dan bagi ibunya itu sepertiga'".
3 Bila ayah didapatkan, maka terhalanglah saudara-saudara laki-laki perempuan 
  sekandung, dan saudara-saudara laki-laki serta saudara-saudara perempuan   
sebapak.  Adapun  kakek,  maka  mereka  tidak  terhalang  olehnya.  Ini  adalah
mazhab  Asy-Syafi'i,  Abu  Yusuf,  Muhammad  dan  Malik.  Sedang  Abu  Hanifah
berpendapat  bahwa  kakek  menghalangi  sebagaimana  ayah  menghalangi
mereka, tidak ada perbedaan antara kakek dan ayah. Undang-undang Warisan
Mesir telah mengambil pendapat yang pertama, dimana dalam pasal 22 terdapat
ketentuan berikut:
  "Apabila kakek berkumpul dengan saudara-saudara lelaki dan saudara-saudara 
  perempuan seibu-sebapak, atau saudara-saudara lelaki dan saudara-saudara 
  perempuan seayah, maka bagi kakek ini ada dua ketentuan:
  Pertama: Dia berbagi sama rata dengan merekan, seperti seorang saudara laki-
           laki jika mereka itu laki-laki saja, atau laki-laki dan perempuan,
           atau perempuan-perempuan yang digolongkan (di'ashobahkan) dengan 
           keturunan perempuan.
  Kedua  : Dia mengambil sisa setelah Ashhaabul Furuudh dengan cara ta'shib,           
bila  dia  bersama  dengan  saudara-saudara  perempuan  yang
di'ashobahkan oleh saudara-saudara lelaki, atau di'ashobahkan oleh keturunan
           perempuan menurut furudh atau pewarisan dengan jalan ta'shib menurut
           ketentuan yang telah dikemukakan itu manjauhkan kakek dari pewarisan
           atau mengurangi bagiannya dari seperenam, maka dia dianggap pemilik  
   dari bagian seperenam. Dan tidak dianggap dalam pembagian masalah
           kakek ini, orang yang terhalang dari saudara-saudara lelaki atau
           saudara-saudara  perempuan  sebapak  (yang  diprioritaskan  dalam
masalah    ini adalah hanya kakek saja, red). 

11.4. SAUDARA LAKI-LAKI/PEREMPUAN SEIBU (KALALAH) 
    Berfirman Allah SWT:
"Jika seorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan 
ayah dan tidak memeninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-
laki  (seibu  saja)  atau  seorang  saudara  perempuan  (seibu  saja),  maka  bagi
masing- masing dari kedua jenis saudara iru seperenam harta. Akan tetapi jika
saudara- saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam
yang sepertiga itu" (Surat An-Nisaa ayat 12).
    Kalalah adalah orang yang tidak mempunyai ayah dan tidak mempunyai anak,
baik  laki-laki  maupun  perempuan.  Dan  yang  dimaksud  saudara  laki-laki  dan
saudara perempuan dalam ayat ini ialah saudara-saudara seibu. Dari ayat di
atas jelaslah bahwa bagi mereka ada tiga ketentuan:
1 Bahwa seperenam itu untuk satu orang, baik laki-laki maupun perempuan.
2 Bahwa sepertiga itu untuk dua orang atau lebih, baik laki-laki atau perempuan.
3  Mereka  tidak  mewarisi  sesuatu  bersama-sama  dengan  keturunan  yang 
mewarisi,   seperti anak laki-laki dan  anak dari anak laki-laki,  dan tidak  pula
mewarisi   bersama dengan ashal (pokok yang menurunkan) yang laki-laki lagi
mewarisi,   seperti ayah dan kakek. Maka mereka ini tidak terhalang dengan
adanya ibu atau  nenek. 
11.5. SUAMI 
    Allah SWT berfirman :
"Dan magimu (para suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-
isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai
anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkan mereka" 
(An-Nisaa : 12) 
    Ayat ini menyebutkan bahwa bagi suami ada dua ketentuan:
Ketentuan pertama:
    Dia mendapatkan warisan separuh, jika tidak ada keturunan yang mewarisi, 
yaitu  anak  laki-laki  dan  seterusnya  ke  bawah,  anak  perempuan,  dan  anak
perempuan 
dari anak laki-laki sekalipun anak perempuan itu diturunkan oleh anak laki-laki,
baik keturunan itu dari dirinya ataupun dari orang lain.
Ketentuan Kedua  :    
Dia  mendapatkan  warisan  seperempat  jika  ada  keturunan  yang  mewarisi.
Adapun 
keturunan yang tidak mewarisi, seperti anak perempuan dari anak perempuan,
maka
dia tidak mengurangi bagian suami atau isteri. 
11.6. ISTERI 
    Allah SWT berfirman :
"Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak 
mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh
seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan" (An-Nisaa' : 12). 
    Dari ayat di atas jelaslah bahwa bagi isteri itu ada dua ketentuan :
Ketentuan Pertama:
    Hak memperoleh bagian seperempat bagi isteri terjadi bila tidak ada
keturunan yang mewarisi, baik keturunan itu dari dirinya ataupun dari orang 
lain.
Ketentuan Kedua  :    
Hak  memperoleh  bagian  seperdelapan  terjadi  bila  ada  keturunan  yang
mewarisi. 
Apabila isteri itu berbilang, maka bagi mereka berbagi rata dari seperempat atau
seperdelapan bagian. 
ISTERI YANG DICERAI
    Isteri yang ditalak (diceraikan) dengan talak raj'ie itu mewarisi dari 
suaminya  apabila  suami  mati  sebelum  habis  masa  iddahnya.  Orang-orang
Hambali 
berpendapat bahwa isteri yang ditalak sebelum dicampuri oleh suami yang 
mentalaknya  di  waktu  sakit  yang  menyebabkan  kematian,  kalau  suami  mati
karena
sakit, sedang isteri belum menikah lagi, maka isteri itu mendapat warisan. 
Demikian pula bila isteri yang ditalak yang telah dicampuri oleh suami yang 
mentalaknya, selama dia belum menikah lagi, dan berada dalam masa 'iddah
karena 
kematian suami.
    Undang-undang yang baru menganggap bahwa isteri yang ditalak bain dalam 
keadaan suami sakit yang menyebabkan kematian, maka dia dihukum sebagai
isteri,
jika dia tidak rela ditalak dan suami yang mentalak mati karena penyakit, sedang
dia masih berada dalam masa 'iddahnya. 
11.7. ANAK PEREMPUAN YANG SHULBIYAH
    
    Allah SWT berfirman :
"Allah  mensyari'atkan  bagimu  tentang  pembagian  harta  pusaka  untuk  anak-
anakmu.
Yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan dua bagian anak perempuan;
dan
jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka duapertiga
dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka dia
memperoleh seperdua harta" (An-Nisaa' 12). 
    Ayat di atas menunjukkan bahwa anak perempuan yang shulbiyah mempunyai
tiga 
ketentuan: 
Ketentuan Pertama:    
Dia  mendapatkan  bagian  seperdua,  apabila  anak  perempuan  itu  hanya
seorang 
diri. 
Ketentuan Kedua  :
    Bagian duapertiga untuk dua orang anak perempuan atau lebih, bila tidak ada
seorang anak laki-laki atau lebih. Berkata Ibnu Qudamah: Ahli ilmu telah sepakat
bahwa fardh (bagian) dari dua orang anak perempuan adalah duapertiga, kecuali 
satu riwayat syadz dari Ibnu 'Abbas. Berkata Ibnu Rusyd: Telah dikatakan bahwa
pendapat yang masyhur dari Ibnu 'Abbas itu seperti pendapat jumhur. 
Ketentuan Ketiga :
    Mewaris secata ta'shib. Bila dia disertai oleh seorang anak laki-laki atau
lebih banyak, maka cara memperoleh warisannya dengan jalan ta'shib; di dalam 
ta'shib bagian seorang laki-laki dua kali bagian seorang perempuan. Denikian
pula bila yang laki-laki dan perempuan itu kedua-duannya banyak. 
11.8. HAL-IHWAL SAUDARA PEREMPUAN SEKANDUNG 
    Allah SWT berfirman:
"Mereka  meminta  fatwa  kepadamu  (tentang  kalalah).  Katakanlah:  "Allah
memberi
fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan dia
tidak  mempunyai  anak  dan  mepunyai  saudara  perempuan,  maka  bagi
saudaranya yang 
perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudara yang laki-
laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai 
anak; akan tetapi jika saudara perempuan itu dua orang; maka bagi keduanya
dua
pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli
waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian
seorang saudara laki-laki sebanyak dua bagian saudara perempuan" (An-Nisa
176). 
Rosululloh saw bersabda :
"Jadikanlah  saudara-saudara  perempuan  dan  anak-anak  perempuan  itu  satu
'ashobah" 
    Bagi saudara perempuan sekandung ada lima ketentuan :
1 Separuh bagi seorang saudara perempuan sekandung bila dia tidak disertai
anak 
  laki-laki, anak laki-laki dari anak laki-laki, ayah, kakek, dan saudara laki-
  laki sekandung.
2 Dua pertiga bagi dua orang saudara perempuan sekandung atau lebih bila
tidak 
  ada laki-laki.
3 Apabila saudara-saudara perempuan itu hanya disertai oleh saudara laki-laki 
  sekandung dan orang-orang yang telah dikemukakan di atas tidak ada, maka
  saudara-saudara perempuan sekandung itu di'ashobahkan; sehingga bagian
dari
  seorang laki-laki adalah dua kali bagian seorang perempuan.
4 Saudara-saudara perempuan sekandung menjadi 'ashobah bersama dengan
anak-anak  
perempuan  atau  anak-anak  perempuan  dari  anak-anak  laki-laki,  sehingga
mereka
  mengambil sisa harta sesudah bagian anak-anak perempuan atau anak-anak 
  perempuan dari anak-anak laki-laki.
5 Saudara-saudara perempuan sekandung itu gugur dengan adanya keturunan
laki-
  laki yang mewarisi, seperti anak laki-laki, dan anak laki-laki dari anak laki-
  laki, serta pokok (yang menurunkan) laki-laki yang mewarisi, seperti ayah -  
menurut  kesepakatan  -  da  kakek  -  menurut  Abu  Hanifah  -.  Pendapat  Abu
Hanifah   
ini berbeda dengan pendapat Abu Yusuf dan Muhammad; dan perbedaan itu
telah 
  dikemukakan pada pembicarann yang lalu. 
11.9. SAUDARA-SAUDARA PEREMPUAN SEAYAH 
    Bagi Rosululloh-Rosululloh perempuan seayah ada enam ketentuan :
1 Separuh, bila dia sendirian, tidak ada saudara perempuan seayah lainnya,
tidak 
  ada saudara perempuan yang sekandung.
2 Dua pertiga, untuk dua orang saudara perempuan seayah ataii lebih.
3  Seperenam,  bila  dia  hanya  bersama  dengan  saudara  perempuan  yang
sekandung,
  sebagai penyempurnaan dua pertiga.
4 Mewarisi secara ta'shib bersama orang lain, bila bersamanya (seorang atau 
  lebih) terdapat seorang anak perempuan atau anak perempuan dari anak laki-
  laki. Nereka mendapatkan sisa sesudah bagian anak perempuan atau anak 
  perempuan dari anak laki-laki.
5 Mereka gugur dengan adanya orang-orang berikut :
  a. Pokok atau cabang laki-laki yang mewarisi.
  b. Saudara laki-laki sekandung.
  c. Saudara perempuan sekandung, bila menjadi 'ashobah oleh sebab anak      
perempuan  atau  anak  perempuan  dari  anak  laki-laki,  sebab  saudara
perempuan      
sekandung  dalam  hal  itu  menduduki  tempat  saudara  laki-laki  sekandung.
Oleh
     sebab itu maka dia didahulukan atas saudara laki-laki seayah dan saudara 
     perempuan seayah, ketika dia menjadi 'ashobah oleh sebab orang lain.  
d. Dua orang saudara perempuan sekandung, kecuali bila bersama mereka
terdapat
     saudara lelaki seayah, maka mereka di'ashobahkan, sehingga sisanya dibagi:
     untuk laki-laki adalah duan bagian seorang perempuan.     
Apabila  mayit  meninggalkan  dua  orang  saudara  perempuan  sekandung,
saudara-
saudara perempuan seauayh dan seorang saudara laki-laki seayah, maka dua
orang 
saudara perempuan  sekandung  itu mendapat duapertiga, dan sisanya dibagi
antara
saudara-saudara  perempuan  seayah  dan  saudara  laki-laki  seayah  dengan
pembagian:
bagian laki-laki dua kali bagian perempuan. 
11.10. ANAK-ANAK PEREMPUAN DARI ANAK LAKI-LAKI  
Bagi anak-anak perempuan dari anak laki-laki ada lima ketentuan:
1 Separuh, bila anak perempuan dari anak laki-laki itu sendiri saja dan tidak 
  ada anak laki-laki shulbi.
2 Duaperiga bagi dua orang atau lebih anak perempuan dari anak laki-laki, bila
  tidak ada anak laki-laki shulbi.
3 Seperenam bagi seorang atau lebih anak perempuan dari anak laki-laki bila
ber-  
samanya  terdapat  anak  perempuan  shulbiyah  sebagai  penyempurnaan
duapertiga;
  kecuali bila bersama mereka terdapat seorang anak laki-laki yang sederajat  
dengan  mereka  (cucu  laki-laki),  maka  mereka  di'ashobahkan;  dan  sisanya
sesudah   
bagian  anak  perempuan  shulbiyah,  dibagikan:  untuk  lelaki  dua  bagian
perempuan.
4 Mereka tidak mewarisi bila ada anak laki-laki.
5 Mereka tidak mewarisi bila ada dua orang anak perempuan sulbiyah atau lebih, 
  kecuali bila bersama didapatkan seorang anak laki-laki dari anak laki-laki 
  yang sederajat dengan mereka (cucu laki-laki) atau lebih rendah dari mereka,
  maka mereka di'ashobahkan. 
11.11. IBU 
    Allah SWT berfirman :
"Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta
yang 
ditinggalkan, jika yang meninggal mempunyai anak, jika yang meninggalkan itu
tidak mempunyai anak, dan dia diwarisi oleh ibu-bapaknya saja, maka ibunya 
mendapapatkan sepertiga. (An-Nisaa' ayat 10). 
    Bagi ibu itu ada tiga ketentuan :
1 Mendapatkan seperenam, bila dia bersama dengan anak laki-laki atau seorang 
  anak laki-laki dari anak laki-laki, atau dua orang saudara laki-laki atau
  saudara perempuan secara muthlak, baik mereka itu dari fihak ayah dan ibu, 
  fihak ayah saja ataupun fihak ibu saja.
2 Mendapat sepertiga dari semua harta peninggalan, bila tidak didapatkan
  seorangpun dari yang telah dikemukakan (dalam no. 1).
3 Mengambil sepertiga dari sisa harta bila tidak ada orang-orang yang telah 
  disebutkan tadi sesudah bagian seorang suami-isteri. Yang demikian itu 
  terdapat dalam dua masalah yang dinamakan gharraiyyah, yaitu :
  Pertama: Bila si mayit meninggalkan suami dan dua orang tua.
  Kedua  : Bila si mayit meninggalkan isteri dan dua orang tua. 
11.12. NENEK 
    Allah SWT berfirman:
"Dari  Qubaishah  bin  Dzuaib,  dia  berkata:  Seorang  nenek  telah  datang
menghadap Abu  Bakr,  lalu  dia  menanyakan  tentang  warisannya.  Abu  Bakr  menjawab:
"Engkau  tidak  mempunyai  hak  sedikitpun  menurut  Kitab  Allah  dan  aku  tidak  tahu
sedikitpun berapa hakmu di dalam sunnah Rosululloh saw. Maka pulanglah engkau sampai
aku menanyakan kepada seseorang". Kemudian Abu Bakr menanyakan kepada para
shahabat.
 Al-Mughiroh bin Syu'bah menjawab: "Aku pernah menyaksikan Rosululloh saw
memberikan kepada nenek seperenam fardh". Abu Bakr bertanya: "Apakah ada orang
lain bersamamu?"  Maka  berdirilah  Muhammad  bin  Maslamah  al-Anshori,
mengatakan seperti apa yang dikatakan Al-Mughiroh bin Syu'bah. Maka Abu Bakrpun memberikan
seperenam  fardh  kepada  si  nenek.  Berkata  Qubaishah:  Kemudian  datanglah
seorang  nenek  yang  lain  kepada  'Umar,  menanyakan  warisannya.  'Umar  menjawab:
"Engkau  tidak mempunyai hak sedikitpun menurut kitab Allah, akan tetapi seperenam 
itulah. Oleh sebab itu, jika kamu berdua, maka seperenam itupun untuk kamu
berdua. Siapa saja diantara kamu berdua yang sendirian, maka seperenam itu 
untuknya". (HR lima orang ahli hadits kecuali An-Nasai, dishahihkan At-Tirmidzi) 
    Bagi nenek yang shahihah (=nenek yang nasabnya dengan si mayit tidak 
diselingi oleh kakek yang fasid. Kakek yang fasid ialah kakek yang nasabnya 
dengan si mayit diselingi oleh perempuan , seperti ayah dari ibu) ada tiga 
ketentuan :
1 Seperenam bila dia sendirian, dan bila lebih dari satu, maka berserikat di 
  dalam seperenam itu, dengan syarat sama derajatnya seperti ibu dari ibu dan
  ibu dari ayah.
2 Nenek yang dekat dari jihat manapun menghalangi nenek yang jauh, seperti
ibu  dari ibu (nenek) menghalangi ibu dari ibu dari ibu (buyut) dan menghalangi
 juga ibu dari ayah dari ayah.
3 Nenek dari jihat manapun gugur dengan adanya ibu; dan nenek dari jihat ayah   
gugur  dengan  adanya  ayah,  akan  tetapi  adanya  ayah  tidak  menggugurkan
nenek dari  fihak  ibu.  Kakek  menghalangi  ibunya  (buyut)  sebab  ibu  kakek  gugur
haknya karena adanya kakek.  

12. 'ASHOBAH 
12.1. DEFINISI
   'Ashobah adalah jamak dari 'aashib, seperti halnya tholabah adalah jamak 
dari thoolib. 'Ashabah ini ialah anak turun dan kerabat seorang lelaki dari 
fihak ayah. Mereka dinamakan 'ashobah karena kuatnya ikatan antara sebagian 
mereka dengan sebagian yang lain.
    Kata 'ashobah ini diambil dari ucapan mereka: "Ashobal qoumu bi fulaan",
bila mereka bersekutu dengan si fulan. Maka anak laki-laki adalah satu fihak
dari 'ashobah, dan ayah adalah fihak lain; saudara laki-laki adalah satu segi 
dari 'ashobah sedangkan paman (dari fihak ayah) adalah sisi yang lain.
    Yang dimaksud dengan 'ashobah disini ialah mereka yang mendapatkan sisa 
sesudah  Ashhaabul  Furuudh  mengambil  bagian-bagian  yang  ditentukan  bagi
mereka.
Apabila tidak ada sisa sedikitpun dari mereka (ashhaabul furuudh), maka mereka 
('ashobah) tidak mendapatkan apa-apa, kecuali bila 'ashib itu seorang anak laki-
laki maka dia tidak akan mendapatkan bagian, bagaimanapun keadaannya.    
Dinamakan 'ashobah juga mereka yang berhak atas semua peninggalan bila
tidak  didapatkan  seorangpun  di  antara  ashhaabul  furuudh,  karena  hadits  yang
diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim, dari Ibnu 'Abbas, bahwa Nabi saw bersabda: 
"Berikanlah bagian-bagian yang telah ditentukan itu kepada pemiliknya yang 
berhak menurut nash; dan apa yang tersisa maka berikanlah kepada 'ashobah
laki- laki yang terdekat kepada si mayit". 
Dari  Abu  Hurairoh  ra,  bahwa  Nabi  saw  bersabda:  "Tidak  ada  bagi  seorang
mukmin kecuali aku lebih berhak atasnya dalam urusan dunia dan akhiratnya. Bacalah
bila kamu suka: "Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin daripada diri mereka 
sendiri." Oleh sebab itu, siapa saja orang mukmin yang mati dan meninggalkan
harta,  maka  harta  itu  diwariskan  kepada  'ashobahnya,  siapapun  mereka  itu
adanya.
Dan barang siapa ditinggali hutang atau beban keluarga oleh si mayit, maka 
hendaklah dia datang kepadaku, karena akulah maulanya." 
12.2. PEMBAGIAN 'ASHOBAH 
'Ashobah itu dibagi menjadi dua bagian :
1 'Ashobah Nasabiyah,
2 'Ashobah Sababiyah. 


12.3. 'ASHOBAH NASABIYAH 
'Ashobah Nasabiyah ada tiga golongan :
1 'Ashobah binafsih
2 'Ashobah bighoirih
3 'Ashobah ma'aghoirih. 
12.4. 'ASHOBAH BINAFSIH 
    'Ashobah binafsih ialah semua orang laki-laki yang nasabnya dengan si mayit
tidak diselingi oleh perempuan. 'Ashobah binafsih ada empat golongan:
1 Bunuwwah (keanakan), dianamakan juz-ul mayyit.
2 Ubuwwah (keayahan), dinamakan ashlul mayyit.
3 Ukhuwwah (kesaudaraan), dinamakan juz-u abiih.
4 Umumah (kepamanan), dinamakan juz-ul jadd. 
12.5. 'ASHOBAH BIGHOIRIH 

'Ashobah  bighoirih  adalah  perempuan  yang  bagiannya  separuh  dalam
eadaan endirian,  dan  duapertiga  bila  bersama  dengan  saudara  perempuannya  atau
ebih. pabila bersama perempuan atau perempuan-perempuan itu terdapat seorang
audara laki-laki, maka di saat itu mereka semuanya menjadi 'Ashobah dengan adanya audara  laki-laki  tersebut.  Perempuan-perempuan  yang  menjadi  'Ashobah bighoirih ada empat :
 Seorang anak perempuan atau anak-anak perempuan,
 Seorang anak perempuan atau anak-anak perempuan dari anak laki-laki,
 Seorang saudara perempuan atau saudara-saudara perempuan sekandung,
 Seorang saudara perempuan atau saudara-saudara perempuan seayah.
 Setiap golongan dari keempat golongan ini menjadi 'Ashobah bersama orang  lain, yaitu saudara laki-laki. Pewarisan diantara mereka adalah laki-laki  mendapat dua bagian perempuan.
 Perempuan-perempuan yang tidak mendapatkan bagian (fardh) bila tidak ada  saudara laki-lakinya yang 'ashib (menjadi 'ashobah) itu tidak menjadi 'ashobah  bighoirih di saat adanya saudara laki-laki. Sebab seandainya seseorang itu mati edang  dia  meninggalkan  seorang  paman  atau  bibi  (dari  fihak  ayah),  maka semua 
hartanya itu untuk paman, sedang bibi tidak mendapatkan dan tidak menjadi  ashobah bersama saudara laki-lakinya; sebab bibi itu tidak mendapatkan bagian bila tidak bersama saudara laki-lakinya. Demikian pula anak laki-laki dari  saudara laki-laki bersama anak perempuan dari saudara lelaki. 
2.6. 'ASHOBAH MA'AGHOIRIH     
'Ashobah ma'aghoirih ialah setiap perempuan yang memerlukan perempuan
lain  untuk menjadi 'Ashobah. 'Ashobah ma'aghoirih ini terbatas hanya pada dua 
golongan dari perempuan, yaitu :
1 Saudara perempuan sekandung atau saudara-saudara perempuan sekandung
bersama  dengan anak perempuan atau anak perempuan dari anak laki-laki.
2  Saudara  perempuan  seayah  atau  saudara-saudara  perempuan  seayah bersama dengan    anak  perempuan  atau  anak  perempuan  dari  anak  laki-laki;  mereka mendapatkan   sisa peninggalan sesudah furudh. 
12.7. CARA PEWARISAN 'ASHOBAH BINAFSIH 
    Pada fasal terdahulu telah dikemukakan cara pewarisan untuk 'ashobah bi-
ghoirih dan 'ashobah  ma'aghoirih. Adapun  cara pewarisan 'ashobah binafsih,
maka  akan kami jelaskan sebagai berikut :
    'Ashobah binafsih ada empat golongan, dan mewarisi menurut tertib berikut:
1 Bunuwwah
  meliputi anak-anak laki-laki dan anak laki-laki dari anak laki-laki dan seterusnya ke bawah.
2 Bila jihat bunuwwah tidak didapatkan, maka peninggalan atau sisanya itu ber-  pindah  ke  jihat  ubuwwah  yang  meliputi  ayah  dan  kakek  shahih  seterusnya keatas.
3 Bila tidak ada seorangpun dari jihat ubuwwah, maka peninggalan atau sisanya
  berpindah ke ukhuwwah. Ukhuwwah ini meliputu saudara-saudara laki-laki 
  sekandung, saudara-saudara laki-laki seayah, anak laki-laki dari saudara 
  laki-laki sekandung, anak-anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah, dan
  seterusnya ke bawah. 
  Note: Sekandung = seibu-seayah.
4  Bila  tidak  ada  seorang  pun  dari  jihat  ukhuwwah,  maka  peninggalan  atau
sisanya  berpindah ke jihat 'umumah tanpa ada perbedaan antara 'umumah si mayit itu   
sendiri  dengan  'umumah  ayahnya  atau  'umumah  kakeknya;  hanya  saja 'umumah si    mayit
didahulukan atas 'umumah ayahnya, dan 'umumah ayahnya didahulukan atas  'umumah kakeknya,
dan begitu seterusnya. 
 Bila didapatkan sejumlah orang dari satu tingkatan, maka yang paling berhak 
untuk mendapatkan warisan adalah mereka yang paling dekat kepada si mayit.
Bila terdapat sejumlah orang yang sama hubungan nasabnya dengan si mayit 
dari  segi  jihat  dan  derajat,  maka  yang  paling  berhak  mendapatkan  warisan
adalah  mereka yang paling kuat hubungan kekerabatannya dengan si mayit.    
Apabila  mayit  meninggalkan  sejumlah  orang  yang  sama  nasab  mereka
kepada  dirinya dari segi jihat, derajat dan kekuatan, hubungan, maka mereka sama-
sama  berhak untuk mendapatkan warisan sesuai dengan kepala mereka.    
Inilah  makna  dari  ucapan  fuqoha:  "Sesungguhnya  pendahuluan  di  dalam
'ashobah  binafsih adalah dengan jihat. Bila jihatnya sama, maka dengan derajat.
 Bila  derajatnya sama, maka dengan kekuatan hubungan. Bila mereka sama dalam
jihat, derajat  dan  kekuatan  hubungan,  maka  mereka  sama-sama  berhak  untuk
mendapatkan warisan dan peninggalan itu dibagi rata diantara mereka menurut jumlah mereka. 
12.8. 'ASHOBAH SABABIYAH 
'Ashib Sababi adalah maula (tuan) yang memerdekakan. Bila orang yang 
memerdekakan tidak ada, maka warisan itu bagi 'ashobahnya yang laki-laki.  
13. HAJBU DAN HIRMAN 
13.1. DEFINISI
    Hajbu menurut bahasa berarti man'u: menghalangi, mencegah. Maksudnya
adalah
terhalangnya seseorang tertentu dari semua atau sebagian warisannya karena 
adanya orang lain.
    Hirman ialah terhalangnya seseorang tertentu dari warisannya karena terjadi
penghalang pewarisan, seperti membunuh dan lain-lainnya. 
13.2. PEMBAGIAN HAJBU
    
Hajbu ada dua macam :
1 Hajbu Nuqshoon,
2 Hajbu Hirman 
    Hajbu Nuqshon ialah berkurangnya warisan salah seorang ahli waris karena
adanya orang lain. Hajbu Nuqshon ini terjadi pada lima orang :
1 Suami terhalang dari separuh menjadi seperempat di waktu ada anak laki-laki.
2 Isteri terhalang dari seperempat menjadi seperdelapan di waktu ada anak lelaki
3 Ibu terhalang dari sepertig menjadi seperenam di waktu ada keturunan yang 
  mewarisi.
4 Anak perempuan dari anak laki-laki.
5 Saudara perempuan seayah.     
Adapun Hajbu Hirman adalah terhalangnya semua warisan bagi seseorang
karena  adanya orang lain, seperti terhalangnya warisan bagi saudara laki-laki di waktu 
adanya anak laki-laki. Hajbu Hirman ini tidak termasuk ke dalam warisan dari
enam orang pewaris, sekalipun mereka bisa terhalang oleh Hajbu nuqshon. 
Mereka itu adalah :
1 & 2 Kedua orang tua, yaitu ayah dan ibu,
3 & 4 Kedua orang tua, yaitu anak laki-laki dan anak perempuan ,
5 & 6 Dua orang suami-isteri. 
    Hajbu Hirman itu masuk ke dalam ahli waris selain dari keenam ahli waris 
tersebut di atas.
    Hajbu Hirman ditegakkan atas dia asa:
1 Bahwa setiap orang mempunyai hubungan dengan si mayit karena adanya
orang lain
  itu, dia tidak mewarisi bila orang tersebut itu ada. Misalnya anak laki-laki 
  dari anak laki-laki itu tidak mewarisi bersama dengan adanya anak laki-laki,
  kecuali anak-anak laki-laki dari ibu, maka mereka itu mewarisi bersama mereka 
  ibu, padahal mereka mempunyai hubungan dengan si mayit karena dia.
2 Orang yang lebih dekat itu didahulukan atas orang yang lebih jauh, maka anak 
  laki-laki menghalangi anak laki-laki dari saudara laki-laki. Apabila mereka 
  sama dalam derajat, maka ditarjih (diseleksi) dengan kekuatan hubungan keke- 
  rabatannya, sperti saudara laki-laki sekandung menghalangi saudara laki-laki 
  seayah. 
13.3. PERBEDAAN ANTARA MAHRUM DAN MAHJUUB     
Perbedaan  antara  mahrum  dan  mahjub  itu  kelihatan  jelas  dalam  dua  hal
berikut
1  Mahrum  sama  sekali  tidak  berhak  untuk  mewarisi,  seperti  orang  yang
membunuh  
(orang yang mewariskan). Sedang mahjub itu berhak mendapatkan warisan,
akan    tetapi dia terhalang karena adanya orang lain yang lebih utama darinya untuk
  mendapatkan warisan.
2 Orang yang mahrum dari warisan itu tidak mempengaruhi orang lain, maka dia 
  tidak menghalanginya sama sekali, bahkan dia dianggap seperti tidak ada saja.
  Misalnya bila seseorang mati dan meninggalkan seorang anak laki-laki kafir
  dan seorang saudara laki-laki muslim; maka warisan itu semua adalah bagi
  saudara laki-laki, sedang anak laki-laki tidak mendapatkan apa-apa.  
Adapun orang yang mahjub (terhalang), maka terkadang dia mempengaruhi
orang 
  lain, dia menghijabnya baik dengan Hajbu hirman ataupun hajbu Nuqshon.  
Misalnya, dua tahu lebih saudara-saudara laki-laki bersama dengan adanya
ayah
  dan ibu. Keduanya (saudara laki-laki) tidak mewarisi karena adanya ayah; dan
  keduanya (ayah dan saudara laki-laki) menghijab ibu dari menerima sepertiga
  menjadi seperenam.  
14. 'AUL 
14.1. DEFINISI 
    'Aul menurut bahasa berarti irtifa': mengangkat. Dikatakan 'aalal miizaan 
bila timbangan itu naik, terangkat. Kata 'aul ini terkadang berarti cenderung
kepada perbuatan aniaya (curang). Arti ini ditunjukkan dalam firman Allah SWT:
"Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya (ta'uuluu)"
(S. An-Nisaa' ayat 3). 
    Menurut para fuqoha, 'aul ialah bertambahnya saham dzawul furudh dan 
berkurangnya kadar penerimaan warisan mereka.
    Diriwayatkan bahwa faridhah (pembagian) harta pertama yang mengalami 'aul 
di dalam Islam itu diajukan kepada 'Umar ra. Maka dia memutuskan dengan 'aul 
pada  suami  dan  dua  orang  saudara  perempuan.  Dia  berkata  kepada  para
sahabat yang  ada di sisinya:
"Jika aku mulai memberikan kepada suami atau dua orang saudara perempuan,
maka tidak ada hak yang sempurna bagi yang lain. Maka berilah aku pertimbangan.
Maka 'Abbas bin 'Abdul Mutholib pun memberikan ertimbangan kepadanya dengan
'aul.
Dikatakan pula bahwa yang memberikan pertimbangan itu ialah 'Ali. Sementara
yang  mengatakan bahwa yang memberikan pertimbangan ialah Zaid bin Tsabit. 
14.2. CONTOH-CONTOH MASALAH 'AUL 
1 Telah mati seorang perempuan dengan meninggalkan seorang suami, dua
orang  saudara perempuan sekandung, dua orang saudara perempuan seibu dan ibu.
Masalah  demikian dianamakan masalah Syuraihiyyah, sebab si suami itu mencaci-maki 
Syuraih, hakim yang terkenal itu, dimana si suami diberi bagian tiga persepuluh
oleh Syuraih. Lalu dia mengelilingi kabilah-kabilah sambil mengatakan: "Syuraih
tidak memberikan kepadaku separuh dan tidak pula sepertiga." Ketika Syuraih
mengetahui  hal  itu,  dia  memanggilnya  untuk  menghadap,  dan  memberikan
hukuman ta'zir  kepadanya.  Kata  Syuraih:  "Engkau  buruk  bicara,  dan  menyembunyikan
'aul." 
2 Seorang suami talah mati, sedang dia meninggalkan seorang isteri, dua orang 
anak  perempuan,  seorang  ayah,  dan  seorang  Ibu.  Masalah  ini  dinamakan
masalah mimbariyyah, sebab Sayyidina 'Ali ra tengah berada di atas mimbar di Kufah,
dan dia  mengatakan  di  dalam  khutbahnya:  "Segala  puji  bagi  Allah  yang  telah
memutuskan dengan kebenaran secara pasti, dan membalas setiap orang dengan apa
yang dia usahakan, dan kepada-Nya tempat berpulang dan kembali," lalu beliau ditanya
tentang masalah itu, maka beliau menjawab di tengah-tengah khutbahnya: "Dan
isteri itu, seperdelapan menjadi sepersembilan," kemudian beliau melanjutkan
khutbahnya. 
 Masalah-masalah yang dimasuki oleh Allah itu ialah masalah-masalah yang 
pokok (ashal)-nya : 6 - 12 - 24.
Enam terkadang ddibesarkan menjadi tujuh, atau delapan, atau sembilan, atau 
sepuluh. Dan duabelas dibesarkan menjadi tiga belas, lima belas, atau tujuh 
belas. Dan dua puluh empat tidak dibesarkan kecuali menjadi dua puluh tujuh.
    Masalah-masalah  yang  tidak  dimasuki  Allah  sama  sekali  ialah  masalah-
masalah  yang pokok (ashal)-nya: 2, 3, 4, 8.
    Undang-undang Warisan Mesir menetapkan Allah pada fasal lima belas, dan 
nashnya sebagai berikut: "Apabila bagian-bagian ashhaabul furuudh melebihi
harta  peninggalan, maka harta peninggalan itu dibagi di antara mereka menurut 
perbandingan bagian-bagian mereka di dalam pewarisan." 
14.3. CARA PEMECAHAN MASALAH-MASALAH 'AUL     
Cara  pemecahan  masalah-masalah  Allah  ialah  harus  mengetahui  pokok
masalah, yakni  yang  menimbulkan  masalah  itu,  dan  mengetahui  saham-saham  setiap
ashhaabul  furuudh  serta  mengabaikan  pokonya.  Kemudian  bagian-bagian  mereka
dikumpulkan, dan kumpulan itu dijadikan sebagai pokok. Lalu peninggalan dibagi atas dasar
itu.  Dan  dengan  demikian,  maka  akan  terjadi  kekurangan  bagi  setiap  orang
sesuai dengan sahamnya. Di dalam masalah ini tidak ada kezaliman dan kecurangan.
Misalnya,  bagi  suami  dan  dua  orang  saudara  perempuan  sekandung,  maka
pokok  masalahnya adalah enam, untuk suami separuh, yaitu tiga, dan untuk dua orang 
saudara  perempuan  sekandung  duapertiga,  yaitu  empat.  Maka  jumlahnya
menjadi tujuh. Dan tujuh itulah yang menjadi dasar pembagian harta peninggalan.  
15. RODD 
15.1. DEFINISI 
    Kata radd berarti i'aadah: mengembalikan. Dikatakan rodda 'alaihi haqqoh
artinya a'aadahu ilaih: dia mengembalikan haknya kepadanya. Dan kata radd
juga berarti sharf: memulangkan kembali. Dikatakan rodda 'anhu kaida 'aduwwih: dia 
memulangkan kembali tipu muslihat musuhnya.    
Yang  dimaksud  radd  menurut  para  fuqoha  ialah  pengembalian  apa  yang
tersisa dari  bagian  dzawul  furudh  nasabiyah  kepada  mereka  sesuai  dengan  besar
kecilnya bagian mereka bila tidak ada orang lain yang berhak untuk menerimanya. 
15.2. RUKUNNYA 
    Radd tidak akan terjadi kecuali bila ada tiga rukun:
1 Adanya ashhaabul furuudh,
2 Adanya sisa peninggalan,
3 Tidak adanya ahli waris 'ashobah. 
15.3. PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG RADD     
Tidak  ada  nash  yang  menjadi  rujukan  masalah  radd;  oleh  sebab  itu  para
ulama  berselisih pendapat tentang radd ini.
    Di antara mereka ada yang berpendapat tentang tidak adanya radd terhadap 
seorang pun di antara ashhaabul furuudh; dan sisa harta sesudah ashhaabul 
furuudh  mengambil  furudh  (bagian-bagian)  mereka  itu  diserahkan  kepada
baitulmal bila tidak ada ahli waris 'ashobah.    
Ada pula yang berpendapat tentang adanya radd bagi ashhaabul furuudh,
bahkan sampai pada suami-isteri menurut kadar bagian masing-masing.
    Sedang pendapat lain adalah radd itu diberikan kepada semua ashhaabul 
furuudh, kecuali suami-isteri, ayah dan kakek.
Maka radd diberikan kepada delapan golongan sebagai berikut:
1 Anak perempuan 
2 Anak perempuan dari anak laki-laki 
3 Saudara perempuan sekandung
4 Saudara perempuan seayah
5 Ibu
6 Nenek
7 Saudara laki-laki seibu
8 Saudara perempuan seibu. 
    Pendapat inilah pendapat yang terpilih. Ini adalah pendapat 'Umar, 'Ali,
jumhur  sahabat  dan  tabi'in.  Dan  inilah  mazhab  Abu  Hanifah,  Ahmad,  dan
pendapat yang dipegang bagi aliran Syafi'i, serta sebagian pengikut Malik, ketika baitul-
mal rusak.
    Mereka berkata: Radd itu tidak diberikan kepada suami-isteri karena radd 
dimiliki  dengan  jalan  rahim,  sedang  suami-isteri  tidak  mempunyai  hubungan
rahim kecuali hanya sebab perkawinan. Radd juga tidak diberikan kepada ayah dan
kakek karena radd itu ada bila tidak ada ahli waris 'ashobah, sedang ayah dan kakek 
termasuk ahli waris 'ashobah yang mengambil sisa dengan jalan ta'shib dan
bukan  dengan cara radd.
    Undang-undang Waris Mesir mengambil pendapat ini, kecuali dalam satu 
masalah,  maka  ia  mengambil  pendapat  'Utsman.  Undang-undang  itu
menetapkan adanya radd bagi salah seorang suami-isteri, maka suami/isteri yang hidup mengambil
bagian dengan cara fardh dan radd. Radd terhadap seorang dari suami-isteri di 
dalam  undang-undang  itu  sesudah  dzawul  arham.  Dalam  fasal  30  terdapat
ketentuan  sebagai berikut: "Apabila furudh tidak dapat menghabiskan harta peninggalan
dan tidak terdapat 'ashobah nasab, maka sisanya dikembalikan kepada selain 
suami-isteri dari golongan ashhaabul furuudh, menurut perbandingan furudh 
mereka. Dan sisa dari harta peninggalan sikembalikan kepada salah seorang
suami- isteri, bila tidak didapatkan 'ashobah nasab atau salah seorang ashhaabul 
furuudh nasabiyah atau seorang dzawul arhaam." 
15.4. CARA MEMECAHKAN MASALAH-MASALAH RADD 
    Caranya ialah bila bersama ashhaabul furuudh didapatkan orang yang tidak 
mendapatkan  radd  berupa  salah  seorang  suami-isteri,  maka  salah  seorang
suami- isteri mengambil fardhnya dari pokok harta peninggalan. Dan sisa sesudah fardh 
ini adalah untuk ashhaabul furuudh sesuai dengan jumlah mereka bila mereka 
terdiri dari satu golongan, baik yang ada itu hanya salah seorang diantara 
mereka seperti anak perempuan. Apabila ashhaabul furuudh itu lebih banyak
dari satu golongan, seperti seorang ibu dan seorang anak perempuan, maka sisanya
dibagikan  kepada  mereka  sesuai  dengan  fardh  mereka  dan  dikembalikan
kepada  mereka sesuai dengan perbandingan fardh mereka pula.    
Adapun  bila  bersama  ashhaabul  furuudh  tidak  didapatkan  salah  seorang
suami- isteri, maka sisa harta peninggalan sesudah fardh mereka dikembalikan kepada 
mereka sesuai dengan jumlah mereka, bila mereka itu terdiri dari satu golongan,
baik yang ada di antara golongan itu hanya seorang ataupun banyak.
Apabila ashhaabul furuudh itu lebih dari satu golongan, maka sisanya dikembali-
kan  kepada  mereka  sesuai  dengan  perbandingan  fardh  mereka.  Dengan
demikian maka bagian dari setiap ashhaabul furuudh itu bertambah sesuai dengan melimpahnya 
harta; sehingga dia mendapatkan sejumlah warisan yang berupa fardh dan radd.  
16. KANDUNGAN (HAMLU)     
Kandungan  (hamlu)  adalah  anak  yang  dikandung  di  perut  ibu.  Kami  akan
membicarakan kandungan di sini dari segi pewarisan dan lamanya kandungan. 
16.1. HUKUMNYA DALAM PEWARISAN 
    Kandungan itu adakalanya lahir dari perut ibu dan adakalanya tetap di dalam
perutnya.  Masing-masing  dari  dua  keadaan  ini  mempunyai  hukum-hukumnya
sendiri, dan akan kami sebutkan berikut ini : 
16.2. KANDUNGAN YANG LAHIR DARI PERUT IBU 
    Apabila kandungan lahir dari perut ibu, maka adakalanya ia lahir dalam 
keadaan  hidup  dan  adakalanya  dalam  keadaan  mati.  Apabila  ia  lahir  dalam
keadaan  mati, maka kemungkinan lahirnya bukan karena tindak pidana dan permusuhan
terhadap sang ibu, dan kemungkinan disebabkan tindak pidana terhadap sang ibu.
Apabila dia lahir dalam keadaan hidup, maka dia mewarisi dan diwarisi oleh
orang lain; karena adanya riwayat dari Abu Hurairoh bahwa Nabi saw bersabda: 
"Apabila anak yang dilahirkan itu menangis, maka dia diberi warisan". 
    Istihlaal artinya jeritan tangisan bayi; maksudnya ialah bila nyata 
kehidupan anaka yang lahir itu, maka dia diberi warisan. Tandanya hidup ialah 
suara, nafas, bersin, atau yang serupa dengan itu. Ini adalah pendapat 
Ats-Tsauri, Al-Auza'i, Asy-Syafi'i dan sahabat-sahabat Abu Hanifah.    
Apabila  kandungan  lahir  dalam  keadaan  mati  bukan  karena  tindak  pidana
yang  dilakukan terhadap ibunya, menurut kesepakatan, dia tidak mewarisi dan tidak 
pula diwarisi.
    Apabila dia lahir dalam keadaan mati disebabkan tindak pidana yang dilaku-
kan terhadap ibunya, maka dalam keadaan demikian, dia mewarisi dan diwarisi
menurut orang-orang Hanafi.
    Sedang mazhab Syafi'i, Hambali, dan Malik berpendapat bahwa dia tidak 
mewarisi sedikitpun, akan tetapi dia mendapatkan ganti rugi saja karena darurat.
Dia tidak mendapatkan selain itu. Ganti rugi ini diwarisi oleh setiap orang yang 
berhak mendapat warisan darinya.
    Al-Laits bin Sa'd dan Robi'ah bin 'Abdurrahman berpendapat bahwa janin itu
bila lahir dalam keadaan mati disebabkan tindak pidana terhadap ibunya, maka
dia tidak mewarisi dan tidak pula diwarisi; akn tetapi iibunya mendapat ganti rugi.
Ganti rugi itu diberikan kepada ibunya, karena tindak pidana itu menimpa 
sebagian dari dirinya, yaitu si janin. Dan bila tindak pidana itu hanya menimpa 
diri si ibu saja, maka ganti ruginya pun hanya untuk dirinya. Undang-undang 
Warisan Mesir mengambil pendapat ini. 
16.3. KANDUNGAN YANG BERADA DALAM PERUT IBU     
1  Kandungan  yang  masih  berada  dalam  perut  ibu  tidak  bisa  menahan
sebagian  harta peninggalan, bila dia bukan pewaris atau terhalang oleh orang lain dalam 
segala  keadaan.  Apabila  seseorang  mati  dan  meninggalkan  seorang  isteri,
seorang  ayah dan seorang ibu yang hamil yang bukan dari ayahnya, maka kandungan
yang  demikian  tidak  mendapatkan  warisan;  sebab  dia  tidak  akan  keluar  dari
keadaannya sebagai saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu, sedang saudara laki-
laki  atau saudara perempuan seibu tidak mewarisi dengan adanya ayah.
  2 Semua harta peninggalan ditahan sampai kandungan dilahirkan, bila dia 
pewaris dan tidak ada seorang pewarispun yang ada bersamanya, atau ada
seorang  pewaris tetapi terhalang olehnya. Demikian kesepakatan para fuqoha.
Demikian pula semua harta peninggalan ditahan bila bersamanya terdapat ahli 
waris yang tidak terhalang, akan tetapi mereka semua merelakan baik secara
terang-terangan  maupun  tersembunyi,  untuk  tidak  membagi  warisan  secara
segera,  misalnya mereka diam saja atau tidak menuntutnya. 
    3 Setiap ahli warisyang mempunyai fardh (bagian) tidak berubah dengan 
berubahnya kandungan, maka dia mendapatkan bagiannya secara sempurna,
dan sisanya ditahan.
Misalnya, bila si mayit meninggalkan seorang nenenk dan seorang isteri yang 
hamil,  maka  nenek  mendapatkan  bagian  seperenam  karena  bagiannya  tidak
berubah,  baik anak yang akan dilahirkan itu laki-laki ataupun perempuan.     
4 Pewaris yang gugur dengan salah satu dari dua keadaan kandungan dan
tidak  gugur dengan keadaan lain, tidak diberi bagian sedikitpun karena hak kewarisan-
nya itu meragukan.  Misalnya,  bila  mayit  meninggalkan  seorang  isteri  yang  hamil  dan  seorang
saudara  laki-laki, maka saudara laki-laki itu tidak mendapatkan sesuatu, sebab mungkin 
kandungan yang akan lahir itu laki-laki. Demikian mazhab jumhur.     
5  Ashabul  furudh  yang  berubah  bagiannya  karena  kandungan  yang  akan
dilahirkan itu laki-laki atau perempuan, diberi bagian yang minimal dari dua 
kemungkinan  tersebut,  dan  yang  di  dalam  kandungan  diberi  bagian  yang
maksimal dari  kedua  kemungkinan  di  atas  kemudian  ditahan  sampai  ia  lahir.  Bila
kandungan  yang dilahirkan itu hidup, dan ternyata ia berhak memperoleh bagian yang lebih
besar,  maka  tinggal  mengambilnya.  Dan  bila  dia  tidak  merhak  memperoleh
bagian  yang lebih besar dan hany berhak memperoleh bagian yang minimal, maka dia
mengambilnya; dan sisanya dikembalikan kepada ahli waris. Apabila dia lahir dalam
keadaan mati, maka dia tidak berhak sedikitpun; dan semua harta peninggalan
dibagikan kepada ahli waris tanpa memeperhatikan kandungan itu. 
16.4. BATAS WAKTU MAKSIMAL DAN MINIMAL BAGI KANDUNGAN 
    Batas waktu minimal terbentuknya janin dan dilahirkan dalam keadaan hidup
adalah enam bulan, karena firman Allah SWT: 
"Dan  mengadungnya  sampai  menyapihnya  adalah  tiga  puluh  bulan"  (S.  Al-
Ahqoof 15)
"Dan menyapihnya dalam dua tahun" (S. Luqmaan 14). 
    Apabila menyapihnya dua tahun, maka tidak ada sia lagi selain enam bulan 
untuk mengandung. Inilah pendapat yang dianut oleh jumhur fuqoha.
    Berkata  Al-Kamal  ibnul  Hamam,  salah  seorang  imam  golongan  Hanafi,
"Sesungguhnya  kebiasaan  yang  berlaku  ialah  bahwa  keadaan  kandungan  itu  lebih
banyak dari enam bulan, bahkan mungkin sampai bertahun-tahun pun tidak didengar
adanya kelahiran kandungan dalam umur enam bulan."
    Pendapat sebagian orang-orang Hambali ialah batas waktu minimal dari 
kandungan adalah sembilan bulan.
    Undang-undang Warisan Mesir bertentangan dengan pendapat jumhur ulama
Dan mengambil  pendapat  dari  sebagian  orang-orang  Hambali  dan  pendapat  para
dokter resmi,  yaitu  bahwa  batas  minimal  dari  kandungan  adalah  sembilan  bulan
Qomariyah yakni 270 hari, karena yang demikian itu sesuai dengan apa yang banyak sekali 
terjadi.
    Sebagaimana mereka berselisih pendapat tentang batas minimal waktu 
mengandung, maka merekapun berselisih pula tentang batas maksimalnya. Di
antara mereka ada yang berpendapat dua tahun. Ada pula yang berpendapat sembilan
bulan.
Sedang  yang  lainnya  mengatakan  satu  tahun  Qomariyah  (354   hari).  Dan
undang-undang yang disarankan oleh para dokter resmi.
Maka disebutkanlah bahwa batas waktu maksimal dari kandungan adalah satu
tahun Syamsiyyah  (365  hari);  dan  yang  demikian  ini  dipegangi  dalam  menatapkan
nasab,  pewarisan, wakaf dan wasiat.    
Adapun undang-undang warisan, maka ia mengambil pendapat Abu Yusuf
yang  memberikan fatwa pada mazhab bahwa kandungan itu diberi bagian maksimal 
dari dua  kemungkinan  dan  mengambil  pendapat  tiga  orang  imam  dalam
mempersyaratkan 
dilahirkannya kandungan secara keseluruhan dalam keadaan hidup untuk dapat
memperoleh hak warisannya.
    Undang-undang  juga  mengambil  pendapat  Muhammad  ibnul  Hikam  yang
menyatakan bahwa kandungan itu tidak mewarisi kecuali bila dia dilahirkan dalam batas 
waktu satu tahun sejak tanggal kematian atau perceraian antara ayahnya dan 
ibunya.
    Termuat dalam fasal-fasal 42, 43, dan 44 sebagai berikut :
Fasal 42: Ditahan demi kandungan harta peninggalan si mayit yaitu dua bagian 
maksimal menurut perkiraan bahwa yang dilahirkan itu laki-laki atau perempuan. 
Fasal 43: Bila seorang laki-laki mati dengan meninggalkan isterinya yang sedang
'iddah, maka kandungannya tidak dapat mewarisi kecuali bila dia dilahirkan
dalam  keadaan  hidup,  dan  masa  kelahiran  maksimal  365   haridari  tanggal
kematian atau perceraian. Kandungan tidak mewarisi selain ayahnya, kecuali dalam dua 
keadaan berikut :
1 Bila dia dilahirkan dalam keadaan hidup dalam batas waktu maksimal 365 hari
  dari tanggal kematian atau perceraian, bila ibunya ber'iddah karena kematian
  atau perceraian, dan orang yang mewariskan mati di tengah 'iddah.
2 Bila dia dilahirkan dalam keadaan hidup dalam batas waktu maksimal 270 hari 
  dari tanggal kematian orang yang mewariskan, jika dia lahir dari perkawinan 
  yang masih utuh di saat kematian. 
Fasal  44:  Apabila  yang  ditahan  untuk  kandungan  itu  kurang  dari  hak  yang
semestinya diterima, maka ahli warisyang mendapatkan bagian wajib mengembalikan 
sisanya untuk sang janin. Dan bola yang ditahan untuk kandungan itu lebih dari
hak  yang  semestinya  diterima,  maka  kelebihan  itu  dikembalikan  kepada  ahli
waris yang berhak menerimanya.   
Sumber   :  Fiqh Sunnah jilid 14
            Karangan :  As-Sayyid Sabiq
            Cetakan 2 -- Bandung: Alma'arif, 1988

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar